Realitarakyat.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyerukan bahaya ancaman ideologi komunisme bagi masa depan negaranya dalam pidato menjelang peringatan Hari Kemerdekaan AS ke-250 di Monumen Mount Rushmore, South Dakota, Jumat (3/7/2026).
Dalam pidato tersebut, Trump secara tegas mengusulkan deportasi bagi para pendatang baru atau imigran yang dinilai membawa paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Amerika.
Trump menuding kelompok progresif Partai Demokrat dan sebagian pendatang baru sebagai pihak yang berupaya membawa ideologi tersebut. Ia mengajak seluruh warga Amerika Serikat untuk mempertahankan kebebasan yang telah diwariskan oleh para pendiri negara.
“Sekarang terjadi ancaman komunisme di negeri kita, termasuk dari para pendatang baru yang memeluk ide-ide yang sepenuhnya bertentangan dengan cara hidup dan kesuksesan besar kita,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari Reuters, Sabtu (4/7/2026).
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan membiarkan paham tersebut berkembang dan berjanji akan mengalahkan gerakan itu dengan cepat guna menjaga identitas negara.
“Kita akan mengusir mereka dan terus membangun negara ini lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat. Amerika tidak akan pernah menjadi negara komunis,” tegasnya.
Pernyataan keras ini disampaikan Trump menjelang pemilu paruh waktu (midterm) yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Retorika anti-komunisme ini menguat setelah sejumlah kandidat progresif dari Partai Demokrat, termasuk tiga politikus berhaluan democratic socialist, memenangi pemilihan pendahuluan di beberapa wilayah strategis seperti New York City, Colorado, Kentucky, New Jersey, Ohio, Pennsylvania, dan Texas.
Trump mengaitkan kemenangan kubu progresif tersebut sebagai ancaman terbesar bagi Amerika sejak negara itu berdiri, serta menjadikannya sebagai instrumen politik untuk menggalang dukungan pemilih Partai Republik.
Pidato ini disampaikan di tengah situasi domestik Amerika Serikat yang masih menghadapi tekanan inflasi tinggi dan lonjakan harga bahan bakar, bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS-Israel melawan Iran. (*)







