Realitarakyat.com – Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak boleh melulu dipandang sebagai ancaman bagi perekonomian nasional.
Merujuk pada keberhasilan Turki dalam menyiasati depresiasi mata uang, DPR mendorong Pemerintah untuk mengubah tekanan kurs global tersebut menjadi momentum mendongkrak daya saing Indonesia di sektor pariwisata, ekspor, dan hilirisasi industri.
Menurutnya, pelemahan mata uang secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata dan komoditas ekspor yang jauh lebih kompetitif di pasar internasional.
Namun, strategi ini wajib diimbangi dengan kebijakan persisten dalam menekan ketergantungan bahan baku impor demi menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat.
“Fokus kita bukan meratapi rupiah yang melemah, melainkan mengejar ekonomi yang kuat. Ketika rupiah tertekan oleh dinamika global, kita harus mampu mengubah tantangan itu menjadi peluang ekonomi,” ujar Amin dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
“Pariwisata adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita harus mengirim barang ke luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif,” katanya.
Amin mendorong percepatan infrastruktur dan promosi destinasi prioritas luar Bali seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, hingga Wakatobi.
Selain pariwisata, penguatan hilirisasi produk ekspor seperti sawit, kopi, furnitur, tekstil, dan industri kreatif dipandang sebagai kunci utama penyerapan devisa.
“Hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita ekspor, semakin besar devisa yang masuk dan semakin kuat fondasi ekonomi nasional,” tegas Wakil Ketua Fraksi PKS DPR ini.
“Nilai tukar yang terlalu lemah tetap berisiko memicu inflasi, menaikkan biaya produksi, dan mengurangi daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas ekonomi makro harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
DPR menegaskan bahwa ketahanan moneter nasional pada akhirnya bertumpu pada produktivitas sektor riil dan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah, serta pelaku usaha.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, dan potensi pariwisata kelas dunia. Jika semua potensi itu dikelola secara optimal, pelemahan rupiah bukan sekadar menjadi tantangan,” kata Amin.
“Tetapi dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.[prs]







