Realitarakyat.com – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka pada Minggu, 20 Oktober 2024.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap kepemimpinan Presiden Prabowo dapat berjalan baik dan membawa kebaikan bagi bangsa dan Negara.
“Semoga dapat menjalankan mandat rakyat, bangsa, dan negara selama lima tahun ke depan sejalan isi sumpah atas nama Allah. Yakni ‘bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,” kata Haedar dalam keterangannya, Minggu.
Haedar juga berharap dalam menjalankan pemerintahan ke depan, Prabowo-Gibran terus memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya. Serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.
Muhammadiyah, kata Haedar, juga menyampaikan 7 poin apresiasi dan harapan kepada Prabowo-Gibran. Berikut beberapa apresiasi dan harapan Muhammadiyah merespon pidato Presiden Prabowo Subianto hari ini.
Dalam pidato Presiden Prabowo, Muhammadiyah menilai mengandung komitmen pada menjaga konstitusi, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Presiden dalam pidatonya juga berkomitmen pada kedaulatan pangan, menghadapi kemiskinan, politik luar negeri yang bebas aktif, pengelolaan sumberdaya alam yang bertanggungjawab.
Apresiasi Muhammadiyah juga diberikan pada keterbukaan dan ajakan jujur menghadapi realitas oleh Presiden Prabowo. Pemerintah baru dapat mewujudkan Asta Cita, yaitu 8 visi pembangunan yang disampaikan Presiden Prabowo.
Muhammadiyah juga menekankan pentingnya menjaga dan menkonsolidasikan demokrasi substantif agar benar-benar menjadi agenda penting dalam penegakkan sistem politik Indonesia. Sehingga terdapat ruang yang semakin terbuka dalam mengekspresikan pandangan-pandangan kritis yang bertanggungjawab demi menjaga “checks and balances” dalam kehidupan bernegara.
Muhammadiyah juga berharap agar dunia Perguruan Tinggi direkonstruksi atas segala praktik plagiasi dan kecurangan akademik yang menggambarkan pragmatisme dan oportunisme demi meraih prestasi secara tidak etik. Pemberian gelar-gelar akademik yang merusak tatanan dunia akademik penting ditertibkan untuk menjaga martabat akademik dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Haedar juga menggarisbawahi harapan agar kepemimpinan nasional lima tahun ke depan menjadi kekuatan yang memimpin Indonesia dengan jiwa dan visi kenegarawanan tertinggi untuk menjaga persatuan, kemakmuran, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Utamakan kepentingan bangsa dan negara dari kepentingan diri dan kelompok sendiri.
”Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan kepada Pemerintahan baru. Serta melimpahkan rahmat-Nya bagi seluruh bangsa Indonesia,” ucap Haedar. ***







