News  

Sebanyak 2000 SDM Unggul Akan Mengabdi di 154 Kawasan Transmigrasi

Sebanyak 2000 SDM Unggul Akan Mengabdi di 154 Kawasan Transmigrasi
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara. (Kementrans)

Realitarakyat.com – Sebanyak 2000 SDM unggul akan mengabdi di 154 kawasan transmigrasi di lima pulau besar dalam program Ekspedisi Patriot 2025.

Menteri Transmigrasi (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong Ekspedisi Patriot 2025 untuk mengoptimalkan pengelolaan kawasan transmigrasi di Indonesia sekaligus memastikan proses distribusi ribuan peserta ke seluruh kawasan transmigrasi.

Menurutnya, transmigrasi patriot merupakan transformasi besar transmigrasi Indonesia menuju pendekatan kawasan berbasis kolaborasi dan SDM unggul.

Transmigrasi bukan lagi sekadar perpindahan penduduk, namun menjadi strategi pembangunan nasional untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru. Selaras dengan arahan Presiden yang menekankan pentingnya membangun dari pinggiran, serta memperkuat potensi kawasan terluar dan perbatasan.

“Tim Ekspedisi Patriot adalah bentuk nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam menciptakan peta jalan pembangunan transmigrasi. Berbasis potensi lokal, mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga menjadi agen perubahan di lapangan,” kata Iftitah dalam keterangan tertulisnya, pada Rabu (16/7/2025).

Iftitah menyatakan, program ini didesain dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan dunia akademik, pelaku usaha, serta pemerintah daerah. Para peserta juga akan dibekali pelatihan vokasi, pendampingan usaha, hingga sertifikasi kompetensi sebagai bagian dari proses penguatan kapasitas.

“Kami ingin menyiapkan SDM unggul yang mampu membangun daerah dari pinggiran. Melalui Transmigrasi Patriot, anak muda Indonesia bisa mengabdi dan berkarya untuk bangsa dengan cara yang profesional dan berdampak,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Velix V. Wanggai mengapresiasi Ekspedisi Patriot 2025. Ekspedisi Patriot 2025 ditargetkan menghasilkan sedikitnya 400 output strategis.

Seperti laporan riset kawasan, rekomendasi kebijakan pembangunan transmigrasi, rancangan kelembagaan ekonomi masyarakat, serta kajian pemberdayaan berbasis investasi. Program ini bukan sekadar pengiriman peserta, tetapi juga membangun dasar kebijakan yang kuat berbasis data dan memperkuat kerjasama.

“Ekspedisi Patriot 2025 adalah laboratorium besar kolaborasi pembangunan kawasan berbasis data dan pengabdian. Ini bukan sekadar riset, tetapi langkah konkret membangun ekosistem ekonomi menyatu antara SDM unggul, pemerintah daerah, dan masyarakat,” ujarnya.

Pendistribusian peserta dilakukan secara merata ke seluruh Indonesia. Di Pulau Sumatera, peserta akan ditempatkan di 46 lokasi dengan total 545 orang ditargetkan menghasilkan 109 output penelitian.

Kalimantan mencakup 23 lokasi dengan 280 peserta dan 56 output, Sulawesi menjadi wilayah dengan keterlibatan terbesar kedua. Yaitu 45 lokasi dan 540 peserta yang diproyeksikan menghasilkan 108 output.

Di Papua terdapat 21 lokasi dengan 230 peserta dan 46 output, Maluku melibatkan 11 lokasi dengan 130 peserta. Di kawasan Nusa Tenggara, sebanyak 275 peserta akan terlibat di 8 lokasi dan menghasilkan 55 output. ***