Realitarakyat.com – Indonesia datang ke panggung COP30 dengan janji hijau yang berkilau, tapi di balik sorotan diplomasi, bayang-bayang inkonsistensi masih menghantui. Pidato megah, target ambisius, tapi di lapangan kebijakan iklim Indonesia masih penuh tanda tanya.
Di Belém, Brasil, Indonesia bicara lantang soal transisi energi. Namun, dunia bertanya: apakah janji itu sekadar retorika atau benar-benar siap diwujudkan?
Sebagaimana diketahui Indonesia tampil sebagai salah satu pemain penting dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil. Delegasi RI membawa narasi besar tentang pembangunan hijau, perdagangan karbon, dan transisi energi. Namun, di balik pidato megah dan janji ambisius, tersisa pertanyaan soal konsistensi dan implementasi nyata.
Di satu sisi, Indonesia berusaha menunjukkan komitmen iklim di panggung global dengan sederet target dan janji baru. Di sisi lain, praktik di lapangan masih menyisakan ambiguitas, bahkan dianggap kontradiktif dengan komitmen yang disampaikan.
Realitas ini menimbulkan kesan “dua wajah” kebijakan iklim Indonesia: satu wajah diplomatik yang ingin menyenangkan dunia, dan wajah lain yang masih berhadapan dengan tantangan serius dalam penegakan kebijakan.
Ke depan, Indonesia dituntut menentukan arah yang jelas: apakah benar-benar siap menjalankan transisi energi dan menjaga hutan tropisnya, atau sekadar mengulang retorika tanpa langkah konkret. Dunia menunggu bukti, bukan sekadar janji.(Din)







