Realitarakyat.com – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga dirancang sebagai instrumen strategis untuk menekan angka kemiskinan, khususnya di wilayah perkotaan.
Menurut Nanik, pelaksanaan program tersebut secara langsung menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar melalui perekrutan relawan dapur.
Di sisi lain, kebutuhan pasokan bahan pangan untuk Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) turut menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru secara tidak langsung.
“Kalau ini terjadi, pengentasan kemiskinan di kota akan terjadi. Bukan hanya pembukaan lapangan pekerjaan, tapi sebetulnya Program MBG ini adalah jalan tol pengentasan kemiskinan,” kata Nanik Sudaryati dalam keterangannya, Sabtu (13/12).
Ia menjelaskan, setiap dapur MBG diwajibkan melibatkan sedikitnya 47 warga setempat sebagai relawan.
Para relawan tersebut akan menjalankan berbagai tugas operasional, mulai dari pencucian wadah makanan, penerimaan dan pembersihan bahan pangan, pengolahan serta pemotongan bahan, proses memasak, pemorsian, hingga pendistribusian makanan ke sekolah penerima manfaat.
Nanik menegaskan bahwa keberlangsungan kerja para relawan tersebut tetap dijamin. Bahkan jika terjadi penyesuaian jumlah penerima manfaat, SPPG tidak diperkenankan memberhentikan relawan dapur yang telah direkrut.
Lebih lanjut, ia menilai dampak ekonomi program MBG juga terasa dari meningkatnya permintaan bahan baku pangan dalam jumlah besar. Setiap SPPG, kata dia, memerlukan pasokan rutin yang signifikan untuk menunjang operasional harian.
Ia mencontohkan, kebutuhan buah untuk satu SPPG dapat mencapai dua hingga tiga kuintal. Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan tempe, tahu, telur, dan bahan pangan lainnya.
“Jadi tidak usah berebut dapur, sekarang yang paling menggiurkan itu sebenarnya adalah menyiapkan bahan baku,” kata Nanik.
Nanik menambahkan bahwa persoalan kemiskinan di kawasan perkotaan memiliki tantangan tersendiri karena keterbatasan lahan. Oleh sebab itu, penciptaan kesempatan kerja dinilai menjadi solusi paling realistis.
“Dengan adanya program MBG ini, lapangan pekerjaan bisa terbuka, sehingga mereka bisa bekerja di dapur maupun sebagai tenaga kerja dalam penyediaan bahan baku pangan,” tutup Nanik.[prs]







