Realitarakyat.com – Anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2026 dipastikan turun drastis. Kepala Perpusnas, Aminudin Azis, menyebut anggaran berjalan hanya Rp 377,9 miliar, atau berkurang 52% dibandingkan tahun 2025.
“Artinya ada pemotongan yang sangat-sangat besar dibandingkan dengan tahun 2025,” kata Azis dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR di Senayan, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Azis mengungkapkan pihaknya sudah tiga kali mengajukan tambahan anggaran kepada Presiden Prabowo Subianto, dengan nilai Rp 644,6 miliar. Ia berharap DPR memberi dukungan agar usulan tersebut bisa segera direalisasikan.
Anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana, menyoroti kemampuan Perpusnas dalam merawat naskah kuno dengan anggaran yang terbatas. Ia mempertanyakan apakah dana yang ada cukup untuk menjaga koleksi berharga, termasuk naskah yang baru dipulangkan dari luar negeri.
“Yang ada saja kita kesulitan merawat karena keterbatasan anggaran. Lalu bagaimana dengan naskah yang baru dipulangkan, misalnya dari New Zealand?” ujarnya.
Bonnie juga menyinggung layanan digital Perpusnas, iPusnas, yang belakangan sering macet. Menurutnya, hal ini menunjukkan dampak langsung keterbatasan anggaran terhadap kualitas pelayanan publik.
“Kalau sedang malas pergi, saya biasanya akses iPusnas. Tapi belakangan ini sering macet,” keluhnya.
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menjelaskan salah satu penyebab gangguan iPusnas adalah keberadaan aplikasi ilegal bernama downloader iPusnas. Aplikasi tersebut diketahui mengunduh buku-buku digital secara tidak sah, sehingga merugikan secara material sekaligus melanggar hak cipta.
“Kami melakukan antisipasi untuk menghentikan proses itu,” tegas Joko.
Dengan anggaran yang terpangkas lebih dari separuh, Perpusnas menghadapi tantangan besar: menjaga koleksi naskah kuno, meningkatkan layanan digital, sekaligus memastikan literasi tetap terjangkau bagi masyarakat.(Din)







