Realitarakyat.com – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak boleh menggantikan peran manusia dalam dunia jurnalisme.
Dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism” di Jakarta, Minggu (15/3), ia menekankan bahwa AI harus diposisikan sebatas co-pilot atau alat bantu untuk meningkatkan kualitas pemberitaan.
Hetifah mengungkapkan data krusial yang menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen Generasi Z kini mulai beralih ke AI untuk mencari informasi.
Fenomena ini menandakan bahwa AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan pintu masuk yang mulai menggeser lanskap tradisional media massa, mulai dari produksi hingga konsumsi berita.
“AI dapat membantu mempercepat proses kerja, namun integritas nurani dan tanggung jawab moral tetap tidak bisa didelegasikan kepada algoritma,” tegas politisi Fraksi Partai Golkar tersebut dalam acara yang bekerja sama dengan BRIN tersebut.
Meskipun survei menunjukkan 95 persen jurnalis di Asia Tenggara sudah familiar dengan AI, Hetifah memperingatkan bahwa keputusan editorial, verifikasi fakta, dan pertimbangan etika harus tetap mutlak di bawah kendali manusia.
Hal ini sangat penting untuk menangkap ancaman serius seperti disinformasi dan konten manipulatif berupa deepfake yang kian realistis.
“Survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar 75 persen jurnalis di Indonesia menggunakan AI sebagai alat bantu kerja. Bahkan 84 persen responden menilai teknologi ini memberikan dampak positif terhadap produktivitas mereka. Ini menandakan bahwa komunitas jurnalis di Indonesia cukup adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ungkap Ketua Umum PP KPPG ini.
Namun, Hetifah juga melihat peluang besar dalam efisiensi ruang redaksi. Integrasi teknologi ini melahirkan konsep smart journalism, di mana AI mampu memproses tugas berat secara instan, seperti analisis ribuan dokumen dan pengolahan data publik.
Dengan bantuan teknologi, jurnalis diharapkan dapat menyajikan pengetahuan kompleks menjadi informasi yang lebih mudah dicerna publik.
“Publik tidak hanya membutuhkan berita yang cepat, tetapi juga yang dapat dipercaya. Dalam ekosistem informasi yang semakin kompleks, akurasi, verifikasi, dan kedalaman analisis justru menjadi nilai pembeda antara jurnalisme berkualitas dan sekadar produksi konten,” tegasnya.
Di akhir paparannya, ia mengingatkan agar media tidak terjebak dalam perlombaan kecepatan digital yang kerap mengorbankan akurasi.
Menurutnya, penggunaan AI harus sejalan dengan penguatan riset dan data untuk menjaga pilar utama produk jurnalistik yang berkualitas.
“Integrasi antara data, riset, dan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat kualitas informasi yang diterima publik. Di situlah pentingnya kolaborasi antara media, akademisi, dan lembaga riset seperti BRIN agar inovasi teknologi benar-benar mendukung jurnalisme yang bertanggung jawab dan berkualitas,” pungkasnya.
Diskusi ini sendiri menghadirkan narasumber dari kalangan peneliti dan ahli statistik, yaitu Hanif Fakhrurroja, Peneliti Ahli Madya di Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Setia Pramana, Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data di Badan Pusat Statistik.
Keduanya membahas pentingnya pemanfaatan data, metodologi statistik, serta teknologi kecerdasan buatan dalam memperkuat kualitas analisis dan pemberitaan media.
Dalam paparannya, para narasumber menyoroti bahwa jurnalisme masa depan akan semakin bergantung pada kemampuan mengolah data secara akurat serta memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses analisis informasi.
Namun demikian, integritas jurnalistik tetap menjadi faktor utama agar teknologi tidak disalahgunakan dalam produksi berita.[prs]






