Realitarakyat.com – Fenomena El Nino yang sedang berkembang tahun ini berpotensi menjadi Super El Nino dengan intensitas yang diprediksi dapat melampaui rekor bencana serupa pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.
Siklus cuaca alami berupa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ini diperkirakan akan mengubah pola iklim global dan memengaruhi kehidupan ratusan juta orang.
Sejumlah pemodelan komputer menunjukkan indikasi kuat mengenai lonjakan intensitas tersebut, meski tingkat kepastian kekuatan puncaknya baru bisa dipastikan saat peristiwa itu terjadi.
Berkaca pada “El Nino Abad Ini” yang terjadi pada kurun 1997-1998, jurnal Science mencatat kerugian pendapatan global akibat dampak ekonomi jangka panjang mencapai US$5,7 triliun dalam rentang lima tahun selama dan setelah kejadian.
Ilmuwan dari NSF National Center for Atmospheric Research, Nathan Lenssen, menjelaskan bahwa Super El Nino kali ini terjadi di tengah kondisi suhu bumi yang sudah jauh lebih hangat akibat perubahan iklim.
Kondisi ini membuat dampak yang akan ditimbulkan menjadi lebih sulit diprediksi jika hanya mengacu pada data historis masa lalu.
“Perubahan iklim telah membuat El Nino di masa lalu menjadi kurang informatif untuk kejadian hari ini,” kata Lenssen, seperti dikutip dari CNN, Minggu (24/5/2026).
Fenomena El Nino bertindak sebagai pengubah probabilitas cuaca, seperti menekan aktivitas badai di Atlantik namun meningkatkan potensi topan di Pasifik Barat dan Timur, serta memicu kekeringan parah di belahan bumi selatan.
Meskipun akurasi prakiraan cuaca modern telah meningkat dan membantu lembaga kemanusiaan seperti Palang Merah mempersiapkan cadangan pangan lebih awal, kesiapsiagaan global tahun ini menghadapi tantangan baru.
Pengurangan drastis bantuan luar negeri Amerika Serikat serta pembubaran USAID di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump dikhawatirkan akan memengaruhi mitigasi kelaparan dan kekeringan di negara-negara berkembang yang paling rentan terdampak. (*)







