DPR  

112 Siswa Terpapar Radikalisme Lewat Game Online, Meity Rahmatia Ingatkan Peran Krusial Orang Tua

112 Siswa Terpapar Radikalisme Lewat Game Online, Meity Rahmatia Ingatkan Peran Krusial Orang Tua
Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKS, Meity Rahmatia/Net

Realitarakyat.com – Anggota Komisi XIII DPR RI, Meity Rahmatia, mengingatkan pentingnya memperkuat peran dan keterlibatan orang tua dalam sistem pendidikan anak di lingkungan keluarga.

Peringatan keras ini disampaikan guna merespons temuan mengkhawatirkan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengenai adanya 112 siswa yang terindikasi terpapar paham radikal melalui media sosial dan game online.

Meity menegaskan bahwa pembentukan perilaku serta karakter dasar seorang anak sangat ditentukan oleh model pola asuh yang didesain secara sengaja oleh orang tua di dalam rumah.

Hal ini termasuk dalam hal pembuatan regulasi domestik terkait batasan penggunaan teknologi berbasis digital, seperti gawai (gadget), aplikasi, platform media sosial, hingga pemantauan aktivitas permainan daring.

“Pembentukan karakter anak itu dimulai dari pola asuh, model-model pendekatan yang digunakan dalam mendidik anak di dalam rumah tangga. Termasuk pada aturan dan pengawasan penggunaan media sosial,” kata Meity dalam keterangan persnya yang dikutip Rabu (3/6).

Menurut Meity, guna mengantisipasi sekaligus memotong rantai penyebaran paham radikal, para orang tua dituntut untuk proaktif memberikan preferensi serta literasi yang sehat kepada anak.

Edukasi tersebut harus diarahkan pada penanaman pemahaman keagamaan yang moderat, pengenalan lingkungan sosial yang ideal, serta pemilihan komunitas-komunitas positif yang mendukung pengembangan kapasitas diri maupun keterampilan non-teknis (soft skill) anak.

Oleh sebab itu, legislator dari Senayan ini mewanti-wanti agar tanggung jawab pengasuhan terhadap anak jangan pernah diabaikan oleh para orang tua dengan alasan apa pun. Orang tua diwajibkan memiliki ikatan batin yang kuat agar mampu membangun ruang komunikasi yang intensif dan dua arah dengan anak-anak mereka.

“Harus ada kedekatan emosional yang dalam lebih dulu antara anak dan orang tua. Ya, tidak selalu harus bersama secara fisik, tapi kehadiran sosok ibu dan bapak itu benar-benar dirasakan oleh anak. Kehadiran yang intensif itu dapat dibangun melalui komunikasi intensif, berikan perhatian yang cukup,” jelas Meity secara mendalam.[prs]