Realitarakyat.com — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri menegaskan pemerintah tidak ingin pemulihan pariwisata Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, berhenti pada pengembalian kondisi seperti sebelum gempa bumi magnitudo 7,7.
Pemerintah justru mendorong Labuan Bajo menjadi destinasi yang lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai risiko bencana di masa mendatang.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan manajemen risiko bencana serta pengembangan sejumlah destinasi wisata darat baru di Kabupaten Manggarai Barat.
“Labuan Bajo harus pulih dan pada saat yang sama kita ingin Labuan Bajo semakin tangguh dan semakin siap menghadapi berbagai risiko di masa depan,” ujar Widiyanti dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, penguatan aspek keselamatan harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri pariwisata dan perluasan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kita ingin pariwisata terus bertumbuh, dengan keselamatan yang semakin kuat dan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat,” katanya.
Sebelumnya, pada Jumat (28/8/2026), Widiyanti bertemu dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat serta pelaku industri dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo.
Pertemuan tersebut membahas kondisi pariwisata Flores setelah gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Pemerintah menghimpun secara langsung berbagai kondisi, tantangan, dan kebutuhan yang dihadapi pemerintah daerah serta pelaku usaha pariwisata setelah bencana.
Pemulihan kemudian diprioritaskan berdasarkan tingkat kerusakan, kesiapan operasional destinasi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Pembenahan dilakukan terhadap berbagai sektor dalam rantai pariwisata, mulai dari hotel, restoran, desa wisata, kapal wisata, pramuwisata, hingga pelaku UMKM.
Tidak hanya mengejar pemulihan aktivitas ekonomi, pemerintah juga menggunakan momentum tersebut untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain prosedur operasional standar (SOP) tanggap darurat, jalur evakuasi, hingga sistem komunikasi krisis di destinasi wisata.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi melaporkan aktivitas pariwisata di daerah tersebut tetap berlangsung secara aman setelah gempa 15 Agustus 2026.
Berdasarkan data pemerintah daerah, tercatat 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan setelah gempa.
Aktivitas penerbangan domestik maupun internasional juga disebut masih berjalan stabil.
Sementara itu, kawasan Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka setelah menjalani asesmen keselamatan.
Untuk menjaga keberlanjutan pariwisata, Kementerian Pariwisata akan memperkuat kompetensi keselamatan, khususnya bagi tenaga kerja di sektor wisata bahari.
Penguatan tersebut dilakukan melalui program Sertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata Indonesia (SATRIA).
Di saat yang sama, pemerintah juga mendorong diversifikasi destinasi dengan mengembangkan wisata darat, antara lain Pulau Kukusan, Pulau Kelor, dan Gua Rangko.
Pengembangan destinasi alternatif tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan wisatawan sekaligus memperkuat ketahanan sektor pariwisata Labuan Bajo terhadap berbagai risiko di masa depan.(Din)







