Jarak Pandang Terbatas akibat Asap, Pelayaran di Sungai Musi Palembang Terancam Lumpuh

Jarak Pandang Terbatas akibat Asap, Pelayaran di Sungai Musi Palembang Terancam Lumpuh
Realitarakyat.com  — Ketebalan kabut asap yang menyelimuti alur pelayaran di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, membuat Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Palembang mengambil langkah siaga. Pihak otoritas meminta para nahkoda, petugas pandu, hingga nelayan lokal untuk membatasi aktivitas pelayaran demi menghindari risiko kecelakaan pelayaran.
Plt Kepala KSOP Kelas I Palembang, Khairul Anwar, mengonfirmasi bahwa kendati status larangan berlayar total belum diberlakukan, imbauan kewaspadaan tingkat tinggi telah disebarkan secara resmi melalui Notice to Mariners Nomor: PG-KSOP.PLG 15 Tahun 2026.
“Kami mengimbau agar tidak memaksakan berlayar apabila kondisi (asap) cukup mengganggu jarak pandang,” ujar Khairul, Kamis (1/10/2026).
Menyiasati minimnya visibilitas di Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKP) Pelabuhan Palembang, KSOP menerbitkan sederet prosedur navigasi ketat yang wajib dipatuhi oleh setiap kapal yang masih beroperasi:
  • Navigasi Elektronik: Seluruh perangkat radio komunikasi dan sarana bantu navigasi elektronik di atas kapal wajib dinyalakan nonstop.
  • Isyarat Kapal Melaju: Kapal bertenaga yang sedang bergerak wajib membunyikan satu tiupan panjang setiap interval maksimal dua menit.
  • Isyarat Kapal Berhenti: Kapal bertenaga yang berhenti di atas air wajib membunyikan dua tiupan panjang beruntun (jeda antar-tiupan dua detik).
  • Isyarat Kondisi Khusus: Kapal tidak terkendali, kapal nelayan, penarik, atau kapal terbatas olah gerak wajib memberikan tiga tiupan beruntun (satu panjang diikuti dua pendek) setiap maksimal dua menit.
  • Isyarat Berlabuh Jangkar: Kapal yang sedang lego jangkar diwajibkan membunyikan genta secara cepat selama lima detik setiap selang satu menit.
Penerapan isyarat suara ini dinilai menjadi benteng pertahanan utama untuk mencegah potensi tabrakan antarkapal di tengah pekatnya kabut asap yang membendung pandangan mata telanjang para mualim.(Din)