Realitarakyat.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mematangkan kajian penggunaan Skytrain Suspended Train atau kereta gantung bermesin sebagai moda transportasi perkotaan. Teknologi ini dipertimbangkan sebagai angkutan pengumpan (feeder) pendukung jaringan transportasi massal seperti LRT dan MRT, dengan koridor Mekarsari–Cileungsi sebagai salah satu opsi jalur percontohan.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub, Risal Wasal, menjelaskan bahwa moda yang sedang diteliti memiliki karakteristik berbeda dari kereta gantung kawasan wisata. Sistem ini dilengkapi mesin penggerak mandiri pada rangkaian kereta sehingga dapat diandalkan untuk mobilitas harian masyarakat dengan kapasitas angkut hingga 200 penumpang per kereta dan interval kedatangan (headway) sekitar 5 sampai 7 menit.
“Biaya pembangunannya diperkirakan hanya Rp320 miliar per kilometer, sudah mencakup sarana, prasarana, dan sistem operasional,” ujar Risal dalam sebuah rilisnya yang diterima Redaksi pada, Sabtu (3/10/2026).
Selain nilai investasi dan operasional yang relatif terjangkau—sekitar Rp32 miliar per tahun berdasarkan hasil studi awal—proses pembangunan skytrain ini secara teknis diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun.
Risal menambahkan bahwa teknologi transportasi gantung yang dikaji telah teruji dan beroperasi resmi di lima negara. Meski demikian, aspek keselamatan serta keandalan teknis tetap wajib mengacu pada standar regulasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) sebelum keputusan final penerapannya ditetapkan(Din)







