Realitarakyat.com – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan kesiapan Indonesia untuk tampil sebagai pemimpin iklim (climate leader) di kancah global.
“Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB menjadi wake up call bagi para pemimpin dunia untuk berkolaborasi mencegah dampak perubahan iklim secara setara dan berkeadilan tanpa dominasi pihak mana pun,” kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/9).
Eddy menyoroti sikap Presiden Prabowo yang secara tegas menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pidatonya, Trump menyebut perubahan iklim sebagai scam (penipuan).
“Setelah Presiden Trump menyebut climate change sebagai scam, Presiden Prabowo langsung menyampaikan bahwa Indonesia sudah merasakan dampak nyata, seperti kenaikan permukaan laut di Jakarta,” ujar Eddy.
Menurutnya, keberanian Presiden Prabowo bicara gamblang tentang kesadaran menghadapi perubahan iklim menunjukkan posisi Indonesia yang siap mengambil peran kepemimpinan global.
“Pesan yang sangat kuat dari Presiden Prabowo adalah menghadapi perubahan iklim bukan dengan slogan, tetapi dengan langkah nyata. Bahkan, beliau menegaskan Indonesia siap mencapai target net-zero emissions lebih cepat dari 2060,” tegas Eddy.
MPR, lanjut Eddy, mendukung penuh kebijakan transisi menuju pembangunan berbasis energi terbarukan dan penciptaan lapangan kerja hijau bagi masyarakat lokal.
Sebagai tindak lanjut, ia menyampaikan komitmennya memperjuangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengelolaan Perubahan Iklim (PPI) di parlemen.
“Alhamdulillah, berdasarkan rapat paripurna kemarin, RUU PPI sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas 2026. Semoga sejalan dengan kebijakan Presiden menghadapi dampak perubahan iklim,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam pidatonya pada Sidang Umum ke-80 PBB di New York, Selasa (23/9), Presiden Prabowo menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman nyata. Ia mencontohkan kenaikan permukaan laut di pesisir utara Jakarta yang mencapai 5 cm per tahun.
“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kami sudah merasakan dampak perubahan iklim. Dalam 10 tahun, kenaikan itu bisa 50 cm, bahkan satu meter dalam 20 tahun,” kata Presiden.
Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia merespons ancaman tersebut dengan aksi konkret, seperti pembangunan tanggul laut raksasa di pesisir utara Jawa, transisi energi dari fosil ke energi terbarukan, dan komitmen memenuhi Perjanjian Paris 2015.[rs]







