Realitarakyat.com – Sejumlah badan cuaca dunia memperingatkan potensi kemunculan fenomena El Niño di Samudra Pasifik pada akhir tahun ini, yang berpeluang mendorong suhu global mencapai rekor tertinggi pada 2027.
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) serta Biro Meteorologi Australia menyatakan sejumlah model iklim mulai memprediksi kemunculan El Niño. Meski demikian, kedua lembaga menegaskan tingkat kepastian prediksi tersebut masih rendah.
Biro Meteorologi Australia dalam laporan terbarunya menyebut beberapa model menunjukkan kemungkinan El Niño mulai berkembang pada Juni. Namun, lembaga itu menilai rentang waktu prediksi tersebut masih terlalu panjang untuk memastikan terjadinya fenomena tersebut.
NOAA juga melaporkan peluang El Niño meningkat, tetapi menyoroti ketidakpastian pada hasil pemodelan iklim yang ada.
Ilmuwan iklim dari Monash University sekaligus mantan kepala prediksi jangka panjang Biro Meteorologi Australia, Andrew Watkins, mengatakan terdapat akumulasi air hangat di bagian barat Pasifik tropis.
Menurutnya, ketika angin pasat melemah, air hangat tersebut berpotensi bergerak ke timur dan menghangatkan perairan lepas pantai Amerika Selatan.
Watkins menyebut sejumlah model memprediksi proses tersebut terjadi pada musim gugur Australia. Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah El Niño akan berkembang sepenuhnya.
Sementara itu, ahli ENSO dari Universitas New South Wales, Andrea Taschetto, mengatakan fenomena La Niña yang saat ini berlangsung diperkirakan segera berakhir.
Ia menyebut peluang terjadinya El Niño atau kondisi netral pada periode Juni hingga Agustus saat ini berada pada kisaran 50 persen.
Para ilmuwan memperkirakan dampak El Niño terhadap suhu global tidak akan langsung terasa pada tahun kemunculannya. Peneliti Berkeley Earth, Zeke Hausfather, menyatakan El Niño yang berkembang pada akhir tahun ini kemungkinan mencapai puncaknya pada November hingga Januari dan berdampak lebih signifikan terhadap suhu permukaan global pada 2027.
Hausfather menilai El Niño berpotensi mendorong rekor suhu global baru jika berkembang dengan kekuatan sedang hingga kuat. Pendapat serupa disampaikan Watkins, yang menyebut pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil kini semakin dominan dan melampaui variabilitas iklim tahunan.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño tidak diperkirakan terjadi pada 2026. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan suhu udara nasional pada 2026 diproyeksikan lebih rendah dibanding 2024.
BMKG memprediksi suhu rata-rata tahunan Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 25 hingga 29 derajat Celsius. Meski sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami anomali suhu positif sebesar 0,2 hingga 0,6 derajat Celsius dibanding periode normal 1991–2020, suhu tersebut masih berada dalam rentang yang lazim terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
BMKG juga memperkirakan Agustus dan September menjadi bulan terpanas pada 2026, dengan suhu rata-rata berkisar antara 25,5 hingga 30 derajat Celsius. (*)







