Realitarakyat.com – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa keberhasilan Program Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga sangat bergantung pada kolaborasi kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.
Program ini dinilai menjadi solusi strategis untuk memperbaiki pola asuh anak yang saat ini diindikasikan masih lemah di lingkungan keluarga.
Urgensi program ini didasari oleh data memprihatinkan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Tercatat sebanyak 42,25 persen anak usia dini sudah mengakses ponsel dan internet, namun tingkat pendampingan orang tua hanya menyentuh angka 28,58 persen.
Kondisi ini diperparah dengan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang 2025 yang mencatat 2.031 kasus pelanggaran hak anak, di mana ayah dan ibu kandung justru menjadi pelaku terbanyak.
“Catatan itu menunjukkan masih ada indikasi lemahnya pola pengasuhan di lingkungan keluarga. Program ini harus dijalankan dengan disiplin dan tidak setengah-setengah,” ujar Lestari dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (26/3).
Program Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga, yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 10 Maret 2026, menitikberatkan pada interaksi langsung.
Orang tua pun didorong untuk hadir secara penuh melalui aktivitas sederhana seperti bercerita (dongeng atau pengalaman hidup). Berdialog secara dua arah dan bermain bersama tanpa gangguan gawai.
Wanita yang akrab disapa Rerie ini mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah konsistensi. Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, ia mendesak adanya pengawasan dan evaluasi program secara ketat guna memastikan praktik baik ini tidak hanya menjadi seremonial belaka.
Pemerintah daerah diharapkan mampu memastikan para orang tua di wilayahnya benar-benar meluangkan waktu satu jam tersebut secara berkualitas. Tujuannya jelas, agar setiap anak bangsa memiliki karakter yang kuat dan daya saing tinggi untuk menghadapi tantangan masa depan.[prs]







