Realitarakyat.com – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi informasi di Indonesia wajib ditopang oleh ketersediaan energi bersih yang stabil dan berkelanjutan. Hal ini dinilai krusial agar Indonesia mampu bersaing secara kompetitif di kancah ekonomi digital global.
Eddy menjelaskan bahwa transformasi digital yang mencakup AI, big data, hingga cloud computing memerlukan konsumsi listrik dalam jumlah masif, terutama untuk menopang operasional pusat data (data center). Menurutnya, ambisi Indonesia menjadi pemain utama ekonomi digital mustahil tercapai tanpa dukungan energi yang memadai.
“Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan cloud computing membutuhkan energi dalam jumlah sangat besar. Jika kita ingin Indonesia menjadi pemain penting dalam ekonomi digital global, maka kita harus memastikan pasokan energi yang cukup, stabil, dan semakin bersih,” ujar Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam agenda MPR Goes to Campus di Universitas Bina Nusantara (Binus) Bandung, Kamis (5/3).
Ia menyoroti tren global di mana negara-negara pusat pengembangan AI mulai memprioritaskan energi terbarukan sebagai sumber utama operasional mereka.
“Perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, hingga Amazon menempatkan energi terbarukan sebagai fondasi operasional data center mereka. Ini soal keberlanjutan lingkungan, sekaligus juga soal efisiensi, stabilitas energi, dan daya saing ekonomi,” tambahnya.
Eddy optimistis Indonesia mampu mengikuti jejak tersebut mengingat potensi energi terbarukan nasional yang mencapai ribuan gigawatt, mulai dari sumber surya, hidro, panas bumi, hingga angin.
“Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 3.600 gigawatt dari berbagai sumber. Ini adalah modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai hub ekonomi digital sekaligus pusat pengembangan teknologi di kawasan,” jelasnya.
Untuk mewujudkannya, Eddy mendorong percepatan investasi serta reformasi kebijakan di sektor energi terbarukan. Selain infrastruktur, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi dalam membangun ekosistem teknologi nasional.
“Kampus seperti Binus memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta-talenta digital masa depan. Di saat yang sama, riset di bidang energi terbarukan dan teknologi informasi harus berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk teknologi, tetapi juga pencipta inovasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Eddy menilai transisi energi bukan sekadar isu lingkungan, melainkan peluang ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs).
“Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi. Dengan mengembangkan energi terbarukan untuk menopang ekosistem teknologi digital, kita dapat menciptakan industri baru, lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan,” pungkasnya.[prs]







