DPR  

Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Misbakhun Minta Pemerintah Tak Reaktif

Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Misbakhun Minta Pemerintah Tak Reaktif
Ketua Komisi XI DPR, Mukhammad Misbakhun. //Realitarakyat/Ist

Realitarakyat.com – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, memberikan peringatan keras kepada pemerintah untuk berhati-hati dalam merespons dampak ekonomi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) harus menjadi pilihan terakhir yang diambil pemerintah.

“Saya minta kalau bisa opsi itu paling akhir. Bukan sekadar terakhir, tapi paling akhir,” tegas Misbakhun saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3).

Menyikapi ketidakpastian global tersebut, Misbakhun mengungkapkan rencana Komisi XI untuk memanggil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa guna membahas langkah mitigasi ekonomi.

Namun, ia menekankan bahwa rencana pemanggilan tersebut masih melihat perkembangan situasi yang bersifat dinamis.

“Kita akan agendakan itu, tapi kita lihat dulu karena suasananya masih penuh ketidakpastian di awal. Reaksi yang muncul saat ini masih sangat volatile (berubah-ubah),” tambahnya.

Legislator dari Fraksi Partai Golkar ini melihat adanya secercah harapan terkait redanya eskalasi di Timur Tengah, menyusul sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dinilai mulai melunak.

Hal ini terindikasi dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang tidak menunjukkan kenaikan ekstrem.

“Mudah-mudahan dengan pidato Trump tadi pagi yang mulai melunak, situasi dalam waktu dekat akan mereda. Buktinya hari ini harga minyak kembali mendekati angka 80 (dolar AS per barel), tidak terlalu ekstrem,” jelasnya.

Lebih lanjut, Misbakhun meminta pemerintah untuk tetap tenang dan tidak memberikan reaksi berlebihan (overreaction) terhadap setiap pergerakan geopolitik.

Ia menyarankan strategi pengamatan yang mendalam sebelum menelurkan kebijakan strategis.

“Respons kita harus terukur. Wait and see. Jangan setiap gerakan langsung diberikan reaksi. Kita harus lihat seperti apa kejadiannya dan bagaimana pola respons berikutnya,” pungkas Misbakhun.[prs]