Diplomasi Sultan Muhammad Salahuddin: Sumbawa Terhindar dari Penyerbuan Jepang 1942

Diplomasi Sultan Muhammad Salahuddin: Sumbawa Terhindar dari Penyerbuan Jepang 1942

Realitarakyat.com — Dalam suasana khidmat peringatan Hari Pahlawan, Presiden Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima XIV, di Istana Negara. Penganugerahan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Nusa Tenggara Barat, menegaskan peran strategis sang Sultan dalam menjaga kedaulatan dan martabat rakyatnya di tengah pusaran Perang Dunia II.

 

Salah satu sorotan utama dalam seremoni tersebut datang dari tokoh pemuda NTB, Poetra Adi Soerjo, yang mengangkat kembali kisah diplomasi luar biasa Sultan Salahuddin pada tahun 1942. Saat Jepang melancarkan invasi besar-besaran ke wilayah Hindia Belanda, termasuk penyisiran brutal di Pontianak dan pendudukan penuh atas Borneo, Sumbawa justru mencatat sejarah yang berbeda.

 

Diplomasi di Tengah Krisis

 

Pada Maret 1942, ketika ketegangan memuncak dan kontak senjata sempat terjadi antara pengawal Istana Sumbawa dan otoritas Hindia Belanda, Sultan Muhammad Salahuddin—yang saat itu menjabat sebagai mertua Sultan Sumbawa—memilih jalur diplomasi. Ia mengutus delegasi resmi ke Tokyo, membawa surat yang mengusulkan pembagian administrasi lokal di bawah kendali Jepang, namun tetap menjaga otonomi budaya dan sosial masyarakat Sumbawa.

 

Langkah ini membuahkan hasil luar biasa. Pada 11 Mei 1942, pasukan Jepang mendarat di Sumbawa tanpa perlawanan. Mereka langsung menuju istana dengan sikap saling menghormati, menandai satu-satunya wilayah di Nusantara yang tidak mengalami penyerbuan bersenjata atau eksploitasi tenaga kerja paksa secara masif.

 

“Tidak ada penyerbuan bersenjata di Sumbawa. Bahkan saya berani mengatakan tidak ada Romusha di sana,” tegas Poetra Adi Soerjo. “Pekerja tetap menerima gaji dari Pemerintah Jepang demi kepentingan perang Asia Timur Raya. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh diplomasi Sultan Salahuddin dalam menjaga martabat dan keamanan rakyatnya.”

 

Pengakuan Negara dan Warisan Diplomasi

 

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam pendidikan, peradilan, dan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga pengakuan atas strategi diplomasi yang menyelamatkan ribuan nyawa dan menjaga stabilitas lokal di masa perang.

 

Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, menyebut momen ini sebagai “kebanggaan bersama masyarakat NTB” dan berharap warisan perjuangan Sultan Salahuddin menjadi inspirasi bagi generasi muda.

 

Catatan Sejarah yang Perlu Diangkat

 

Kisah diplomasi Sultan Salahuddin membuka ruang baru dalam narasi sejarah Indonesia—bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan kecerdasan, keberanian moral, dan strategi komunikasi antarbangsa. Di tengah badai kolonialisme dan perang global, beliau membuktikan bahwa martabat dan kemanusiaan dapat dijaga melalui diplomasi yang berani dan bermartabat.(Ess)